"Filosofi Kafir dalam Al-Qur'an: Analisis Hermenutik Schleiermacher" adalah sebuah judul karya tulisku yang kemudian dimuat oleh jurnal Tashwirul Afkar
Cover Jurnal Afkar
Untuk teman teman yang hendak membacanya silahkan ke link berikut:
Sedang bersama gus tiba2 ada santri yang laporan hilang uang 20rb, akhirnya dipanggil dan saya tanya cek cctv belum? dan pertanyaan lain, tapi si santri justru ikhlas aja Tiba2 gus tanya, “dan ikut ngaji bukhori boten” Aku jawab “ikut,” dalam hati berpikir apa bener gus tanya shohih bukhori yang setiap satu bulan aku ikuti, atau maksud gus yang ngaji pagi setiap hari yang jarang aku ikuti, kemudian gus jawab “wis beda maning kuen sih” Kemudian tiba-tiba lagi gus nyalamin saya sambil berkata, “iki amanah nggo sampeyan”. Saya bingung dan dibuka tangan saya ternyata ada sebuah kunci rumah, di bawah tangan kami bersalaman ada petak-petak yang membentuk tangga. Kemudian sambil bercanda gus bergumam, “ngimami isya ya.” kunci rumah, petak-petak berbentuk tangga, ngimami isya. Ada isyarat apa?
Dunia dengan arus digital yang semakin mendominasi manusia menjadi haus validasi, maka apapun akan diperingati, untuk narsis di media sosial bahwa ia masih hidup dan ia tidak gagap informasi. “Kirim foto yang tadi yah!” Begitu kalimat yang pasti ada bahkan menjadi utama ketika selesai melakukan kegiatan apa pun. Segera diposting ke media sosialnya masing-masing dengan caption yang template mengikuti postingan orang lain, serta diiringi backsound lagu yang sedah viral. Untuk yang tidak ikut merayakan biasanya mengupload ulang postingan orang lain. Ketika ada peringatan momen atau hari besar yang penting posting, esensi tak lagi penting, toh besok juga posting yang lain. Kita menjadi haus konten supaya tak terlihat tertinggal. Apakah kita tertinggal dengan tidak ikut memposting kejadian viral seperti orang lain? Apakah kita terlihat kurang pengetahuan ketika tidak ikut membagikan?
Senja itu surya perlahan tenggelam, lembayung menggantung melukis cakrawala di atas debur ombak, bergerak membasahi pasir pantai. Di tepian pantai, aku menemani bapak hendak pergi bernelayan. Membantu mengangkut jala dan tambang ke atas perahu. Perahu dengan suara bising mesin yang sudah akrab di telinga bapak, walau jelas menggganggu. Setiap petang hingga pagi, bapak hidup di atas perahu kecil yang disewa dari Pak Burhan, juragan kapal di kampungku. “Makasih nak, kapan kamu ikut bapak mencari ikan lagi?” tanya bapak. “Nanti saja pak, sekiranya kuliahku libur panjang,” penuh sopan aku menjawab. Aku melihat kekecawaan di balik senyum bapak. Terakhir aku ikut bernelayan saat aku masih sekolah menengah pertama. Aku mencium punggung tangan bapak yang kurus berkeringat. Tenaga bapak berkurang seiring bertambahnya usia. Pernah aku menasihati bapak untuk tidak melaut lagi melihat kesehatannya, tak pernah bapak mau menghiraukan. Bagi bapak, laut sudah memberikan banyak kehidupan, ma...
Komentar
Posting Komentar