Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Cerpen Hujan, Kopi dan Jalan Pulang

"Hujan kadang dirindukan, terkadang juga tak diinginkan." Sudah empat jam berlalu, langit tak henti membasahi bumi, bahkan bukan hanya sekadar basah. Air yang jatuh tidak tahu kemana lagi dia harus mengalir. Warung kopi yang aku buka dari sore baru menyeduh tiga gelas kopi, satu untuk saya sendiri. Dari warung kopi aku melihat di tengah banjirnya jalan seorang bapak nampak kesal, motor bebeknya tidak lagi mau berjalan. Si bapak dengan perawakan pendek itu mencoba sekali lagi dan tetap tidak nyala, ia pasrah. Aku ke luar mendekat, “mogok pak?” “Iya, mungkin karena hujan, tadi kerendam banjir juga,” jawab si bapak. Aku mengajaknya menepi ke depan warung, aku bantu mendorong motornya. “Di luar saja mas, basah,” kata si bapak ketika aku mengajak ke dalam warung. Bibirnya menggigil biru. Khawatir memaksanya masuk hanya akan membuat kurang nyaman, aku bawakan dua kursi dan satu meja ke luar. “Istirahat dulu pak, ini barangkali mau merokok,” setelah rokok kuletakan di atas...

Cerpen Satu Malam Sejuta Makna di Pesisir

Senja itu surya perlahan tenggelam, lembayung menggantung melukis cakrawala di atas debur ombak, bergerak membasahi pasir pantai. Di tepian pantai, aku menemani bapak hendak pergi bernelayan. Membantu mengangkut jala dan tambang ke atas perahu. Perahu dengan suara bising mesin yang sudah akrab di telinga bapak, walau jelas menggganggu. Setiap petang hingga pagi, bapak hidup di atas perahu kecil yang disewa dari Pak Burhan, juragan kapal di kampungku. “Makasih nak, kapan kamu ikut bapak mencari ikan lagi?” tanya bapak. “Nanti saja pak, sekiranya kuliahku libur panjang,”  penuh sopan aku menjawab. Aku melihat kekecawaan di balik senyum bapak. Terakhir aku ikut bernelayan saat aku masih sekolah menengah pertama. Aku mencium punggung tangan bapak yang kurus berkeringat. Tenaga bapak berkurang seiring bertambahnya usia. Pernah aku menasihati bapak untuk tidak melaut lagi melihat kesehatannya, tak pernah bapak mau menghiraukan. Bagi bapak, laut sudah memberikan banyak kehidupan, ma...

Cerpen Aden-aden, Misteri di Bulan Mulud

“Mereka diyakini sebagai pengembara yang keluar hanya di bulan mulud,” begitu jawaban bapak saat kami bertanya siapa Aden-aden itu. Menjelang tidur bapak selalu bercerita, salah satunya tentang Aden-aden, sosok makhluk yang suka menculik anak kecil yang berkeliaran di malam hari Bulan Mulud, bulan kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Penasaran aku dengan sosok Aden-aden, namun rasa takut diculiknya lebih besar sehingga aku tak berani untuk mencarinya. Malam di kampungku menjadi waktu yang indah untuk kami anak-anak kecil, bersenda gurau di mushola setelah selesai belajar ilmu agama. Bahkan di kampungku ada tradisi melekkan, di mana pada setiap padang wulan (biasanya malam tanggal 14 bulan hijriyah) warga kampung tidak tidur satu malam penuh, mereka beribadah dan berdzikir dengan khusyu’ di mushola, diawali dengan ibadah sholat tasbih berjama’ah. Kemudian malam harinya kami anak-anak melakukan ritual mandi di tujuh sumur yang berbeda, ritual itu diyakini untuk menjaga kesehatan dan ...

Cerpen Hujan Berakhir di Februari

Gambar
Hujan Berakhir di Februari “Aku menunggumu di istana berselimut hijau, saat langit menjingga.” Kalimat indah itu tertulis di secarik kertas yang ia titipkan untukku. Rina, gadis cantik dengan puisi di setiap detak jantungnya, membuatku jatuh cinta. Aku tahu dimana harus menemuinya sore ini.   Aku dan dirinya sudah saling mengenal sejak kecil. Rina bahkan selalu ada dalam suasana apa pun, rumahnya adalah rumahku, pun sebaliknya. Aku merasa menjadi manusia paling beruntung di dataran bumi ini, jika Khodijah selalu ada untuk Baginda Nabi, begitu pun Rina yang selalu ada untukku. Dia selalu mengerti kekuranganku dan selalu menegurnya dengan tutur kata yang lembut. Bersamanya tulisanku lebih mengalir, sangat menyenangkan mempunyai seseorang yang bersedia menemaniku menulis.   Dia yang suka sejarah, mengagumi kartini sebagai perempuan hebat yang berani bercita-cita tinggi. Dia suka hujan dan pelangi, seringkali aku bermain air hujan dengannya dan berburu pelangi. H...

Pengalaman pertama Arfan di Stasiun

Gambar
Cerita ini lanjutan dari tulisanku sebelumnya. Arfan, ponakanku yang usianya menjelang dua tahun sering kali bikin aku senyum sendiri. Begitu pun saat ia pertama kali ke stasiun. Baru sampai parkiran, Arfan sudah heran. Ada bapak yang datang menemui kami, bahkan mau mengangkatkan barang. Arfan sampai memperhatikan wajah si bapak itu.  Teh Izza malah tanya, "itu siapa mang?". "Orang yang bantu angkutin barang." Jawabku. "Tapi bayar mungkin nya?".(hahaha) Tanya teh Izza. "Zaman sekarang jarang yang gratis teh," jawabku.  Kereta yang pertama kali baru Arfan lihat melewatkan waktunya untuk sholat Maghrib. Meski sedang berada di area mushola, rupanya sekarang ia lebih tertarik melihat kereta. Dari samping mushola, dari celah2 pagar tembok Arfan memintaku untuk mengangkat badanya supaya kereta yang ia cari terlihat dengan jelas. "Dadahhh" sambil melambaikan tangan ia menyapa semua kereta yang lewat. Mungkin menurutnya itu hal bai...