Postingan

Pelangi di ujung tahun

Kepada gemuruh hujan dan tetesannya. aku berharap derasmu menghantarkanku kepada dirinya. Mengalir liuk melewati ilalang dan akar liar, berlabuh di tanah yang tepat bertemu pelangi. Gelegar petir semoga membangunkan ia dari persembunyiannya. keluarlah sejenak, temui aku dalam pencarian panjang. Entah sudah berapa tetesan hujan jatuh, masih belum kutemukan dirimu. Berapa juta tetes air lagi hingga kau menemuiku. tak inginkah kau bermain hujan berdua bersama. Oh gadis dengan pelangi di hatinya, mengapa kau terus bersembunyi. Lihatlah bagiamana aku kacau tanpa hadirmu, aku tak bisa melihat lagi indahnya warna-warnimu.
dua tahun  sudah aku tak melihatnya, berusaha melupakan sesuatu yang tak pasti. andai saja ketemu pun rasanya bingung mau berkata apa.

Ada

Apakah gelap itu ada, atau hanya karena ketiadaan cahaya. Aku mencoba membandingkan dengan sesuatu yang lain. Kebodohan misalnya, apakah bodoh itu ada, atau hanya ketiadaan pengetahuan. Miskin, atau hanya karena ketiadaan harta. Derita, atau hanya karena ketiadaan bahagia. Lalu kenapa bahagia, kaya, pengetahuan itu ada?

Pura-pura lupa

Semudah itu kah kau menghilang, seperti tanpa ingatan. Mudah bagimu mengatakan padaku, "yang sudah biarlah berlalu". Apa tak ada jejak hidupku dalam hidupmu? Oke, aku kalah. Aku akan pura-pura telah terlupa.
Ada hal yang tak seharusnya terjadi, seperti cintaku padamu. Cinta yang justru memisahkan, bukan mempersatukan seperti novel yang kubaca. Jika sudah begini, ingin aku buang saja perasaan sialan ini, supaya aku bisa bercerita denganmu lagi.

Kala itu

Sore itu, kala aku masih setia dengan langit oren menikmati senja. Pantulan matahari yang hendak pulang terlukis indah di atas permukaan air danau yang tenang. Aku merasa seperti ada yang berjalan ke arahku. Jauh dari arah selatan aku melihat samar seorang perempuan, langkah kakinya tanpa suara menuju ke arahku, angin meniup mesra kerudung merah mudanya. Semakin dekat aku mulai mengenalinya, perempuan dengan senyuman yang selalu ia jaga dari dulu. Senyuman tulus yang membuat nyaman mata memandang. Tanpa ada kata ia kemdian duduk di sampingku. Ia berkata, "aku memang tak seindah senjamu, tapi aku punya perasaan untuk mendengar keluh kesahmu." Baru kali ini aku mendengar kalimat seindag itu, terucap dari perempuan sang pemilik senyum tulus. Belum sempat aku balas, tiba-tiba keadaan di sekelilingku berubah, senja yang aku tatap berganti langit-langit kamar. Perempuan itu pun menghilang entah lewat arah mana ia pergi. Hm, ternyata ini semua hanya mimpi.

Sejarah dibalik pergantian tahun

Bulan terakhir 2016 menjadikan bulan tersibuk dalam sejarah hidupku. Tiga dunia yang aku ikuti semakin jelas di mana aku berperan. Pertama, kampus, tempat yang aku harapkan untuk menyelamatkan keinginanku sebagai penulis, perlahan mulai memperlihatkan jalan. Aku mulai menulis untuk majalah, setelah puisi pertamaku dimuat koran. Kedua, pesantren. Aku dipercaya sebagai sekretaris madrasah dan sekretaris test semester ganjil. Kesibukkan dengan pengalaman yang luar biasa, namun juga karena kelemahanku mengatur waktu membuat dunia lainnya sedikit terkorbankan. Keinginanku untuk mengamalkan ilmu juga mulai tersalurkan. Ketiga, organisasi. Aku mulai belajar kembali apa sesungguhnya organisasi. Satu dari sekian yang aku ikuti adalah permada, organisasi untuk mahasiswa yang alumni satu pesantren denganku. Ini organisasi baru, memulai dari nol. Semangat pergerakan aku rasakan dari tiap jiwa mereka. Namun, celakanya justru aku yang harus jadi ketua. Pemilihannya tepat tanggal 1 Januari 2017, s...