Postingan

dua tahun  sudah aku tak melihatnya, berusaha melupakan sesuatu yang tak pasti. andai saja ketemu pun rasanya bingung mau berkata apa.

Ada

Apakah gelap itu ada, atau hanya karena ketiadaan cahaya. Aku mencoba membandingkan dengan sesuatu yang lain. Kebodohan misalnya, apakah bodoh itu ada, atau hanya ketiadaan pengetahuan. Miskin, atau hanya karena ketiadaan harta. Derita, atau hanya karena ketiadaan bahagia. Lalu kenapa bahagia, kaya, pengetahuan itu ada?

Pura-pura lupa

Semudah itu kah kau menghilang, seperti tanpa ingatan. Mudah bagimu mengatakan padaku, "yang sudah biarlah berlalu". Apa tak ada jejak hidupku dalam hidupmu? Oke, aku kalah. Aku akan pura-pura telah terlupa.
Ada hal yang tak seharusnya terjadi, seperti cintaku padamu. Cinta yang justru memisahkan, bukan mempersatukan seperti novel yang kubaca. Jika sudah begini, ingin aku buang saja perasaan sialan ini, supaya aku bisa bercerita denganmu lagi.

Kala itu

Sore itu, kala aku masih setia dengan langit oren menikmati senja. Pantulan matahari yang hendak pulang terlukis indah di atas permukaan air danau yang tenang. Aku merasa seperti ada yang berjalan ke arahku. Jauh dari arah selatan aku melihat samar seorang perempuan, langkah kakinya tanpa suara menuju ke arahku, angin meniup mesra kerudung merah mudanya. Semakin dekat aku mulai mengenalinya, perempuan dengan senyuman yang selalu ia jaga dari dulu. Senyuman tulus yang membuat nyaman mata memandang. Tanpa ada kata ia kemdian duduk di sampingku. Ia berkata, "aku memang tak seindah senjamu, tapi aku punya perasaan untuk mendengar keluh kesahmu." Baru kali ini aku mendengar kalimat seindag itu, terucap dari perempuan sang pemilik senyum tulus. Belum sempat aku balas, tiba-tiba keadaan di sekelilingku berubah, senja yang aku tatap berganti langit-langit kamar. Perempuan itu pun menghilang entah lewat arah mana ia pergi. Hm, ternyata ini semua hanya mimpi.

Sejarah dibalik pergantian tahun

Bulan terakhir 2016 menjadikan bulan tersibuk dalam sejarah hidupku. Tiga dunia yang aku ikuti semakin jelas di mana aku berperan. Pertama, kampus, tempat yang aku harapkan untuk menyelamatkan keinginanku sebagai penulis, perlahan mulai memperlihatkan jalan. Aku mulai menulis untuk majalah, setelah puisi pertamaku dimuat koran. Kedua, pesantren. Aku dipercaya sebagai sekretaris madrasah dan sekretaris test semester ganjil. Kesibukkan dengan pengalaman yang luar biasa, namun juga karena kelemahanku mengatur waktu membuat dunia lainnya sedikit terkorbankan. Keinginanku untuk mengamalkan ilmu juga mulai tersalurkan. Ketiga, organisasi. Aku mulai belajar kembali apa sesungguhnya organisasi. Satu dari sekian yang aku ikuti adalah permada, organisasi untuk mahasiswa yang alumni satu pesantren denganku. Ini organisasi baru, memulai dari nol. Semangat pergerakan aku rasakan dari tiap jiwa mereka. Namun, celakanya justru aku yang harus jadi ketua. Pemilihannya tepat tanggal 1 Januari 2017, s...

Mari Hijrah

     Bulan dzulhijah yang kita jalani sekarang ini merupakan bulan terakhir dalam penanggalan tahun hijriyah, tahun islam. Setelah habis hari dalam bulan dzulhijah, pada malam tanggal 1 muharrom, umat islam di seluruh dunia merayakan tahun baru hiriyah, tahun baru islam. Di mana pada hari itu umat islam dengan semarak akan merayakan dengan berbagai macam acara. Beda negara beda tradisi, beda pula acaranya, tapi semua satu tujuan untuk mempersatukan islam, merayakan tahun baru islam.        Di negeri kita Indonesia misalnya, seringkali diadakan tahlil atau istighosah bersama, kemudian dilanjutkan dengan pawai obor yang diikuti oleh semua muslim dari golongan anak-anak sampai orang tua, dari pekerja kantoran sampai pekerja biasa semuanya ikut berbaur merayakan. Baik itu nahdlatul ulama, muhammadiyyah ataupun ormas islam lain semuanya sama. Keesokan harinya diadakan lomba-lomba islami, semisal lomba qoshidah, marhabanan, pembacaan puis...