Postingan

Jika kau mau

Hidup penuh dengan cerita. Begitu pun dengan aku, pun dengan yang lain. Kita semua punya, entah ia layak dikenang atau dilupakan.  Adakalanya kenangan terlupakan dengan sendirinya, maka maafkan jika ada kenangan denganku yang tak sengaja terlupa. Otak kita terbatas, ia tak bisa terus2an menerima, harus ada yang tersisihkan. Sebaliknya, ada kenangan yang sangat kuat mendiami otak kita, meski ia dipaksa untuk keluar. Lebih dari basa-basi di atas, rekaman peristiwa yang telah kia alami ialah sejatinya guru kita. Ia dengan sendirinya memberitahu bahwa mana benar mana salah, apa yang tepat untuk kita dan mana yang tak usah kita kejar. Jika kau mau berteman denganku, aku tak menuntut apa2 darimu. Hanya satu, menerima kenyataan bahwa aku punya masa lalu. Itu pun Jika kau mau. Cirebon 03/10/18

Cerpen Hujan Berakhir di Februari

Gambar
Hujan Berakhir di Februari “Aku menunggumu di istana berselimut hijau, saat langit menjingga.” Kalimat indah itu tertulis di secarik kertas yang ia titipkan untukku. Rina, gadis cantik dengan puisi di setiap detak jantungnya, membuatku jatuh cinta. Aku tahu dimana harus menemuinya sore ini.   Aku dan dirinya sudah saling mengenal sejak kecil. Rina bahkan selalu ada dalam suasana apa pun, rumahnya adalah rumahku, pun sebaliknya. Aku merasa menjadi manusia paling beruntung di dataran bumi ini, jika Khodijah selalu ada untuk Baginda Nabi, begitu pun Rina yang selalu ada untukku. Dia selalu mengerti kekuranganku dan selalu menegurnya dengan tutur kata yang lembut. Bersamanya tulisanku lebih mengalir, sangat menyenangkan mempunyai seseorang yang bersedia menemaniku menulis.   Dia yang suka sejarah, mengagumi kartini sebagai perempuan hebat yang berani bercita-cita tinggi. Dia suka hujan dan pelangi, seringkali aku bermain air hujan dengannya dan berburu pelangi. H...

Ketika Lelah

Lelah, kata yang bisa saja indah tapi satu sisi ia juga terkadang sangat menyebalkan. Kini aku sedang mengalami nasib yang kedua, gara-garanya adalah terlalu sering dipermainkan, itu kata temanku meski aku tak pernah merasa dipermainkan. Katanya dunia layaknya pasar malam yang sedang aku singgahi ini, sibuk dengan permainan hanya demi satu kata, "menarik".  Kenapa pasar malam tanyaku, bukan disana bukan hanya tentang permainan. tapi tentang bagaimana orang bertaha hidup. Tentang orang yang memilih hidup di malam hari demi menghidupi keluarga yang ia cintai.  Kenapa kau tidak melihat dari sisi lain? kenapa seolah semua yang berbau hiburan seolah selalu negatif. "Tapi pada kenyataannya lebih banyak yang negatif. Lihatlah para muda-mudi itu. Apa yang mereka cari dan apa yang mereka dapatkan? bukankah lebih baik ia belajar di rumahnya, atau melakukan hal lain yang lebih bermanfaat?" temanku ini tak mau kalah.  "Kau ini, lalu apa yang sedang kita lakuka...

Pengalaman pertama Arfan di Stasiun

Gambar
Cerita ini lanjutan dari tulisanku sebelumnya. Arfan, ponakanku yang usianya menjelang dua tahun sering kali bikin aku senyum sendiri. Begitu pun saat ia pertama kali ke stasiun. Baru sampai parkiran, Arfan sudah heran. Ada bapak yang datang menemui kami, bahkan mau mengangkatkan barang. Arfan sampai memperhatikan wajah si bapak itu.  Teh Izza malah tanya, "itu siapa mang?". "Orang yang bantu angkutin barang." Jawabku. "Tapi bayar mungkin nya?".(hahaha) Tanya teh Izza. "Zaman sekarang jarang yang gratis teh," jawabku.  Kereta yang pertama kali baru Arfan lihat melewatkan waktunya untuk sholat Maghrib. Meski sedang berada di area mushola, rupanya sekarang ia lebih tertarik melihat kereta. Dari samping mushola, dari celah2 pagar tembok Arfan memintaku untuk mengangkat badanya supaya kereta yang ia cari terlihat dengan jelas. "Dadahhh" sambil melambaikan tangan ia menyapa semua kereta yang lewat. Mungkin menurutnya itu hal bai...

Arfan betah di Masjd, kenapa ya?

Gambar
Hari ini, kami sekeluarga menghantarkan Aa Mahbub (bapaknya Arfan) ke Stasiun Cirebon. Ini pengalaman pertama Arfan ke Stasiun. Sebelum ke Stasiun kita menyambut sore Cirebon dengan berkunjung ke Gua Sunyaragi dan Masjid At-taqwa. Masjid yang lokasinya berada di tengah kota ini semakin ramai saja saat menjelang petang. Sesampainya di parkiran masjid, Arfan berlari mengejar Mama (kakeknya Arfan). "ma ma ma," isyaratnya padaku untuk menghantarkannya mengejar mama. Siap bosku, kita kejar.  Mama sudah masuk masjid duluan, aku dan arfan mempercepat langkah. Tapi arfan malah berulah, dia tak mau melepas sepatunya. Sorry fan, ini masjid. Siapa pun yang hendak masuk silahkan buka sepatumu terlebih dulu. Meski pun dia nangis sampai menggigit sepatunya sendiri, aku dibantu dengan A Kholis (Uwanya Arfan) memaksa untuk melepaskan sepatunya. Tenang saja, menangisnya Arfan nggak pernah lama (kecuali kalau memang sakit). Ketika ada hal2 aneh yang baru ia temui, semua permasalahan ak...

Pelangi di ujung tahun

Kepada gemuruh hujan dan tetesannya. aku berharap derasmu menghantarkanku kepada dirinya. Mengalir liuk melewati ilalang dan akar liar, berlabuh di tanah yang tepat bertemu pelangi. Gelegar petir semoga membangunkan ia dari persembunyiannya. keluarlah sejenak, temui aku dalam pencarian panjang. Entah sudah berapa tetesan hujan jatuh, masih belum kutemukan dirimu. Berapa juta tetes air lagi hingga kau menemuiku. tak inginkah kau bermain hujan berdua bersama. Oh gadis dengan pelangi di hatinya, mengapa kau terus bersembunyi. Lihatlah bagiamana aku kacau tanpa hadirmu, aku tak bisa melihat lagi indahnya warna-warnimu.
dua tahun  sudah aku tak melihatnya, berusaha melupakan sesuatu yang tak pasti. andai saja ketemu pun rasanya bingung mau berkata apa.