Postingan

Ganti Rumah

Sudah semenjak dari Januari aku menulis dalam buku catatan. Harapannya satu, hanya aku saja yang baca. Untuk aku bersyukur telah melewati banyak hal, untuk aku belaja ke depannya hingga tidak ada kata sesal. Sialnya tulisanku hilang baru-baru ini. Bodoh, aku tidak memikirkan itu sebelumnya.  Aku kembali ke blog ini, rumah tempat aku berkeluh kesah. Sekalian aku ganti nama saja blog ini. Supaya tidak ada yang menemukan keluh kesahku ini. Tulisan lamaku di blog ini segaja tidak aku hapus, aku sudah tahu patah hatinya kehilangan tulisan. Aku tidak mau mengulanginya. Nama blog ini pun tidak ada maksud apa-apa. Hanya nama ini yang terlintas di pikiranku. Bahwa semua orang ada di jalan. ****** Sudah itu saja pembukannya. ***** Lalu malam ini aku ingin lanjut bercerita tentang kepercayaan. Sungguh aku berharap suatu saat tulisan ini mengingatkanku bagaimana harus hati-hatinya menjaga kepercayaan sehingga tidak seperti aku saat membuat tulisan ini. Hari ini aku hanyalah seseorang yang kris...

Lupa melanjutkan tulisan

 2 Januari Kemarin sempat mau nulis tentang introvert. Karena hari ini tanggal 2 januari diperingati sebagai hari Introvert se-Dunia. Sebelum nulis aku baca-baca dulu, lihat youtube ttg introvert dsb. Baca dari jam 1 sampai jam 4, lapar dong. Akhirnya keluar cari makan, apa aja yang penting nasi. Karena pada liburan tahun baru banyak warung nasi yang tutup, alhasil beli chicken yg siap saji gitu.  "Mas nggak liburan?" Tanyaku "Nggak mas, kalau liburan juga nggak tau mau kemana?" "Sama keluarga?" Tanyaku lagi "Tahun baruan mah nggak seperti hari raya." Setelah pesanan selesai aku kembali pulang, untuk makan karena nggak biasa saja makan di tempat warung makan atau sejenisnya. Laptop masih terbuka, aku makan. Selesai makan aku nggak kembali ke laptop, ke asrama pesantren lihat temen-temen santri yang sedang buat papan tulis. Dalam hati, aku harus nulis, tapi sebisa mungkin masih bergaul. Di asrama sampai jam 8, eh ada temen dari Jakarta datang. 2 o...

Memaknai Pemberian Semesta

Satu Januari 2022, aku ingin memulai kembali kehidupan-kehidupan yang telah aku diamkan sebentar. Bangun pagi karena sudah ada janji dengan beberapa teman, mengunjungi seseorang yang sudah seperti kakak yang mengajarkan aku apa itu pengabdian. Jam 8 baru bangun, berserah kepada Tuhan, maaf aku terlambat. Kirim whatsapp bertanya kepada satu teman, “Hari ini jadi kan?” iya jawab sedang lembur di sekolah, teman yang lain sedang ada acara dengan keluarganya. Menyebalkan, setidaknya mereka memberi kabar kemarin atau tadi malam deh, atau lebih paling tidak berkabar sebelum aku bertanya. Ini penyakit lama, aku kalau sudah punya janji selalu tidak punya rencana bagaimana kalau janji itu batal. Karena apa, karena aku selalu berusaha memperjuangkan apa yang sudah direncanakan. Sering aku marah dengan orang yang menggagalkan begitu saja, Cuma tak ada gunanya. Jadi aku balas saja pesan itu singkat, “kenapa nggak berkabar sebelumnya.” Kemudian sudah nggak mood lagi untuk berbalas whatsapp. Ap...

Catatan Malam Akhir Tahun

Baiklah, disini aku ingin menuliskan sesuatu. Usiaku sudah tidak lagi muda, ini lebih ke tua. Di ujung tahun ini aku masih bersyukur untuk beberapa hal. Pertama, Keluarga Setelah wisuda tepatnya aku bingung mau ngapain, ada beberapa tawaran wisuda S2 di beberapa tempat. Tetapi tidak tega melihat keluarga. Kemudian ada beberapa bulan aku berpikir harus bagaimana, melanjutkan mimpi ngambil S2 filsafat atau bahkan cari S1 sastra. Atau aku harus kembali ke keluarga, berbuat sesuatu untuk membahagiakan mereka.  Tenaga mama sudah tak sekuat dulu, kesehatan mimi juga sering angin-anginan jatuh sakit. Aku berpikir aku harus punya penghasilan untuk setidaknya meringankan beban, memberikan apa yang mereka inginkan.  Namun, setelah keputusanku untuk mementingkan keluarga tiba-tiba ada yang menasihati seperti ini, "apakah kebahagiaan orang tua itu tanggung jawabmu, apakah mereka tidak bisa bahagia sendiri, kemudian bagaimana dengan kebahagiaanmu. Bisa jadi mereka akan bahagia melihatmu me...

Terima Kasih Malam

 Terima Kasih Malam           Waktu berganti setiap detik membawa perubahan rasa kepada jiwa yang hidup. Manusia dibekali kemampuan menyesuaikan diri dari bangun tidur hingga terlelap lagi. Kebanyakan mereka bekerja beriringan dengan matahari, berangkat ketika terbit dan pulang ketika tenggelam, tentunya karena ada kewajiban yang harus dijalankan saat itu. Berbeda dengan diriku beberapa tahun belakangan ini, setelah lulus kuliah menjadi sesuatu yang langka untuk hidup dengan matahari.           Aku memilih hidup di tengah malam di saat orang lain terlelap karena siang yang melelahkan. Saat ufuk fajar terbit tubuh sudah meminta beristirahat, akhirnya aku masih terlelap ketika yang lain baru memulai hari, sarapan pun menjadi sesuatu yang hilang. memilih tidak hidup pagi karena bosan melihat orang lain sibuk sedangkan aku tanpa kegiatan. Alasan lain adalah karena jiwa yang ada dalam diri lebih nyaman dengan k...

Sebuah Jurnal

Gambar
"Filosofi Kafir dalam Al-Qur'an: Analisis Hermenutik Schleiermacher" adalah sebuah judul karya tulisku yang kemudian dimuat oleh jurnal Tashwirul Afkar Cover Jurnal Afkar Untuk teman teman yang hendak membacanya silahkan ke link berikut:  Jurnal Afkar

Cerpen Hujan, Kopi dan Jalan Pulang

"Hujan kadang dirindukan, terkadang juga tak diinginkan." Sudah empat jam berlalu, langit tak henti membasahi bumi, bahkan bukan hanya sekadar basah. Air yang jatuh tidak tahu kemana lagi dia harus mengalir. Warung kopi yang aku buka dari sore baru menyeduh tiga gelas kopi, satu untuk saya sendiri. Dari warung kopi aku melihat di tengah banjirnya jalan seorang bapak nampak kesal, motor bebeknya tidak lagi mau berjalan. Si bapak dengan perawakan pendek itu mencoba sekali lagi dan tetap tidak nyala, ia pasrah. Aku ke luar mendekat, “mogok pak?” “Iya, mungkin karena hujan, tadi kerendam banjir juga,” jawab si bapak. Aku mengajaknya menepi ke depan warung, aku bantu mendorong motornya. “Di luar saja mas, basah,” kata si bapak ketika aku mengajak ke dalam warung. Bibirnya menggigil biru. Khawatir memaksanya masuk hanya akan membuat kurang nyaman, aku bawakan dua kursi dan satu meja ke luar. “Istirahat dulu pak, ini barangkali mau merokok,” setelah rokok kuletakan di atas...